Senin, 03 Januari 2011

Bagaimana terjadinya minyak dan gas bumi ?



Ada tiga faktor utama dalam pembentukan minyak dan/atau gas bumi, yaitu :
Pertama, ada “bebatuan asal” (source rock) yang secara geologis memungkinkan terjadinya pembentukan minyak dan gas bumi.


Kedua, adanya perpindahan (migrasi) hidrokarbon dari bebatuan asal menuju ke “bebatuan reservoir” (reservoir rock), umumnya sandstone atau limestone yang berpori-pori (porous) dan ukurannya cukup untuk menampung hidrokarbon tersebut.
 
Ketiga, adanya jebakan (entrapment) geologis. Struktur geologis kulit bumi yang tidak teratur bentuknya, akibat pergerakan dari bumi sendiri (misalnya gempa bumi dan erupsi gunung api) dan erosi oleh air dan angin secara terus menerus, dapat menciptakan suatu “ruangan” bawah tanah yang menjadi jebakan hidrokarbon. Kalau jebakan ini dilingkupi oleh lapisan yang impermeable, maka hidrokarbon tadi akan diam di tempat dan tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.
 
Temperatur bawah tanah, yang semakin dalam semakin tinggi, merupakan faktor penting lainnya dalam pembentukan hidrokarbon. Hidrokarbon jarang terbentuk pada temperatur kurang dari 65 oC dan umumnya terurai pada suhu di atas 260 oC. Hidrokarbon kebanyakan ditemukan pada suhu moderat, dari 107 ke 177 oC.

Apa saja komponen-komponen pembentuk minyak bumi ?
Minyak bumi merupakan campuran rumit dari ratusan rantai hidrokarbon, yang umumnya tersusun atas 85% karbon (C) dan 15% hidrogen (H). Selain itu, juga terdapat bahan organik dalam jumlah kecil dan mengandung oksigen (O), sulfur (S) atau nitrogen (N).
 
Apakah ada perbedaan dari jenis-jenis minyak bumi ?
Ya, ada 4 macam yang digolongkan menurut umur dan letak kedalamannya, yaitu: young-shallow, old-shallow, young-deep dan old-deep. Minyak bumi young-shallow biasanya bersifat masam (sour), mengandung banyak bahan aromatik, sangat kental dan kandungan sulfurnya tinggi. Minyak old-shallow biasanya kurang kental, titik didih yang lebih rendah, dan rantai paraffin yang lebih pendek. Old-deep membutuhkan waktu yang paling lama untuk pemrosesan, titik didihnya paling rendah dan juga viskositasnya paling encer. Sulfur yang terkandung dapat teruraikan menjadi H2S yang dapat lepas, sehingga old-deep adalah minyak mentah yang dikatakan paling “sweet”. Minyak semacam inilah yang paling diinginkan karena dapat menghasilkan bensin (gasoline) yang paling banyak.
 
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membentuk minyak bumi ?
Sekitar 30-juta tahun di pertengahan jaman Cretaceous, pada akhir jaman dinosaurus, lebih dari 50% dari cadangan minyak dunia yang sudah diketahui terbentuk. Cadangan lainnya bahkan diperkirakan lebih tua lagi. Dari sebuah fosil yang diketemukan bersamaan dengan minyak bumi dari jaman Cambrian, diperkirakan umurnya sekitar 544 sampai 505-juta tahun yang lalu.
 
Para geologis umumnya sependapat bahwa minyak bumi terbentuk selama jutaan tahun dari organisme, tumbuhan dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu organisme laut ini mati, badannya terkubur di dasar lautan lalu tertimbun pasir dan lumpur, membentuk lapisan yang kaya zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan (sedimentary rock). Proses ini berulang terus, satu lapisan menutup lapisan sebelumnya. Lalu selama jutaan tahun berikutnya, lautan di bumi ada yang menyusut atau berpindah tempat.
 
Deposit yang membentuk batuan endapan umumnya tidak cukup mengandung oksigen untuk mendekomposisi material organik tadi secara komplit. Bakteri mengurai zat ini, molekul demi molekul, menjadi material yang kaya hidrogen dan karbon. 

Tekanan dan temperatur yang semakin tinggi dari lapisan bebatuan di atasnya kemudian mendistilasi sisa-sisa bahan organik, lalu pelan-pelan mengubahnya menjadi minyak bumi dan gas alam. Bebatuan yang mengandung minyak bumi tertua diketahui berumur lebih dari 600-juta tahun. Yang paling muda berumur sekitar 1-juta tahun. Secara umum bebatuan dimana diketemukan minyak berumur antara 10-juta dan 270-juta tahun.
 
Bagaimana caranya menemukan minyak bumi ?
Ada berbagai macam cara : observasi geologi, survei gravitasi, survei magnetik, survei seismik, membor sumur uji, atau dengan educated guess dan faktor keberuntungan.
 
Survei gravitasi : metode ini mengukur variasi medan gravitasi bumi yang disebabkan perbedaan densitas material di struktur geologi kulit bumi.
 
Survei magnetik : metode ini mengukur variasi medan magnetik bumi yang disebabkan perbedaan properti magnetik dari bebatuan di bawah permukaan. 
 
Kedua survei ini biasanya dilakukan di wilayah yang luas seperti misalnya suatu cekungan (basin). Dari hasil pemetaan ini, baru metode seismik umumnya dilakukan.
 
Survei seismik menggunakan gelombang kejut (shock-wave) buatan yang diarahkan untuk melalui bebatuan menuju target reservoir dan daerah sekitarnya. Oleh berbagai lapisan material di bawah tanah, gelombang kejut ini akan dipantulkan ke permukaan dan ditangkap oleh alat receivers sebagai pulsa tekanan (oleh hydrophone di daerah perairan) atau sebagai percepatan (oleh geophone di darat). Sinyal pantulan ini lalu diproses secara digital menjadi sebuah peta akustik bawah permukaan untuk kemudian dapat diinterpretasikan.

Aplikasi metode seismik :
1. Tahap eksplorasi : untuk menentukan struktur dan stratigrafi endapan dimana sumur nanti akan digali.
2. Tahap penilaian dan pengembangan : untuk mengestimasi volume cadangan hidrokarbon dan untuk menyusun rencana pengembangan yang paling baik.
3. Pada fase produksi : untuk memonitor kondisi reservoir, seperti menganalisis kontak antar fluida reservoir (gas-minyak-air), distribusi fluida dan perubahan tekanan reservoir.

 Setelah kita yakin telah menemukan minyak, apa selanjutnya ?
Setelah mengevaluasi reservoir, selanjutnya tahap mengembangkan reservoir. Yang pertama dilakukan adalah membangun sumur (well-construction) meliputi pemboran (drilling), memasang tubular sumur (casing) dan penyemenan (cementing). Lalu proses completion untuk membuat sumur siap digunakan. Proses ini meliputi perforasi yaitu pelubangan dinding sumur; pemasangan seluruh pipa-pipa dan katup produksi beserta asesorinya untuk mengalirkan minyak dan gas ke permukaan; pemasangan kepala sumur (wellhead atau chrismast tree) di permukaan; pemasangan berbagai peralatan keselamatan, pemasangan pompa kalau diperlukan, dsb.
 
Jika dibutuhkan, metode stimulasi juga dilakukan dalam fase ini. Selanjutnya well-evaluation untuk mengevaluasi kondisi sumur dan formasi di dalam sumur. Teknik yang paling umum dinamakan logging yang dapat dilakukan pada saat sumur masih dibor ataupun sumurnya sudah jadi.
 
Ada berapa macam jenis sumur ?
Di dunia perminyakan umumnya dikenal tiga macam jenis sumur :
Pertama, sumur eksplorasi (sering disebut juga wildcat) yaitu sumur yang dibor untuk menentukan apakah terdapat minyak atau gas di suatu tempat yang sama sekali baru.
 
Jika sumur eksplorasi menemukan minyak atau gas, maka beberapa sumur konfirmasi (confirmation well) akan dibor di beberapa tempat yang berbeda di sekitarnya untuk memastikan apakah kandungan hidrokarbonnya cukup untuk dikembangkan.
 
Ketiga, sumur pengembangan (development well) adalah sumur yang dibor di suatu lapangan minyak yang telah eksis. Tujuannya untuk mengambil hidrokarbon semaksimal mungkin dari lapangan tersebut.

Istilah persumuran lainnya :
• Sumur produksi : sumur yang menghasilkan hidrokarbon, baik minyak, gas ataupun keduanya. Aliran fluida dari bawah ke atas.
• Sumur injeksi : sumur untuk menginjeksikan fluida tertentu ke dalam formasi (lihat Enhanced oil Recovery di bagian akhir). Aliran fluida dari atas ke bawah.
• Sumur vertikal : sumur yang bentuknya lurus dan vertikal.
• Sumur berarah (deviated well, directional well) : sumur yang bentuk geometrinya tidak lurus vertikal, bisa berbentuk huruf S, J atau L.
• Sumur horisontal : sumur dimana ada bagiannya yang berbentuk horisontal. Merupakan bagian dari sumur berarah.
 
Apakah rig ? Apa saja jenis-jenisnya ?
Rig adalah serangkaian peralatan khusus yang digunakan untuk membor sumur atau mengakses sumur. Ciri utama rig adalah adanya menara yang terbuat dari baja yang digunakan untuk menaik-turunkan pipa-pipa tubular sumur.
 
Umumnya, rig dikategorikan menjadi dua macam menurut tempat beroperasinya :
1. Rig darat (land-rig) : beroperasi di darat.
2. Rig laut (offshore-rig) : beroperasi di atas permukaan air (laut, sungai, rawa-rawa, danau atau delta sungai).
 
Ada bermacam-macam offshore-rig yang digolongkan berdasarkan kedalaman air :
1. Swamp barge : kedalaman air maksimal 7m saja. Sangat umum dipakai di daerah rawa-rawa atau delta sungai.
2. Tender barge : mirip swamp barge tetapi di pakai di perairan yang lebih dalam.
3. Jackup rig : platform yang dapat mengapung dan mempunyai tiga atau empat “kaki” yang dapat dinaik-turunkan. Untuk dapat dioperasikan, semua kakinya harus diturunkan sampai menginjak dasar laut. Terus badan rig akan diangkat sampai di atas permukaan air sehingga bentuknya menjadi semacam platform tetap. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, semua kakinya haruslah dinaikan terlebih dahulu sehingga badan rig mengapung di atas permukaan air. Lalu rig ini ditarik menggunakan beberapa kapal tarik ke lokasi yang dituju. Kedalaman operasi rig jackup adalah dari 5m sampai 200m.
4. Drilling jacket : platform struktur baja, umumnya berukuran kecil dan cocok dipakai di laut tenang dan dangkal. Sering dikombinasikan dengan rig jackup atau tender barge.
5. Semi-submersible rig : sering hanya disebut “semis” merupakan rig jenis mengapung. Rig ini “diikat” ke dasar laut menggunakan tali mooring dan jangkar agar posisinya tetap di permukaan. Dengan menggunakan thruster, yaitu semacam baling-baling di sekelilingnya, rig semis mampu mengatur posisinya secara dinamis. Rig semis sering digunakan jika lautnya terlalu dalam untuk rig jackup. Karena karakternya yang sangat stabil, rig ini juga popular dipakai di daerah laut berombak besar dan bercuaca buruk.
6. Drill ship : prinsipnya menaruh rig di atas sebuah kapal laut. Sangat cocok dipakai di daerah laut dalam. Posisi kapal dikontrol oleh sistem thruster berpengendali komputer. Dapat bergerak sendiri dan daya muatnya yang paling banyak membuatnya sering dipakai di daerah terpencil atau jauh dari darat.
 
Dari fungsinya, rig dapat digolongkan menjadi dua macam :
1. Drilling rig : rig yang dipakai untuk membor sumur, baik sumur baru, cabang sumur baru maupun memperdalam sumur lama.
2. Workover rig : fungsinya untuk melakukan sesuatu terhadap sumur yang telah ada, misalnya untuk perawatan, perbaikan, penutupan, dsb.

Apa saja komponen rig ?
Komponen rig dapat digolongkan menjadi lima bagian besar :
1. Hoisting system : fungsi utamanya menurunkan dan menaikkan tubular (pipa pemboran, peralatan completion atau pipa produksi) masuk-keluar lubang sumur. Menara rig (mast atau derrick) termasuk dalam sistem ini.
2. Rotary system : berfungsi untuk memutarkan pipa-pipa tersebut di dalam sumur. Pada pemboran konvensional, pipa pemboran (drill strings) memutar mata-bor (drill bit) untuk menggali sumur.
3. Circulation system : untuk mensirkulasikan fluida pemboran keluar masuk sumur dan menjaga agar properti lumpur seperti yang diinginkan.
Sistem ini meliputi:
(1) pompa tekanan tinggi untuk memompakan lumpur keluar masuk-sumur dan pompa tekanan rendah untuk mensirkulasikannya di permukaan,
(2) peralatan untuk mengkondisikan lumpur: shale shaker berfungsi untuk memisahkan solid hasil pemboran (cutting) dari lumpur; desander untukmemisahkan pasir; degasser untuk mengeluarkan gas, desilter untuk memisahkan partikel solid berukuran kecil, dsb.
4. Blowout prevention system : peralatan untuk mencegah blowout (meledaknya sumur di permukaan akibat tekanan tinggi dari dalam sumur). Yang utama adalah BOP (Blow Out Preventer) yang tersusun atas berbagai katup (valve) dan dipasang di kepala sumur (wellhead).
5. Power system : yaitu sumber tenaga untuk menggerakan semua sistem di atas dan juga untuk suplai listrik. Sebagai sumber tenaga, biasanya digunakan mesin diesel berkapasitas besar.



Mengapa digunakan lumpur untuk pemboran ?
Lumpur umumnya campuran dari tanah liat (clay), biasanya bentonite, dan air yang digunakan untuk membawa cutting ke atas permukaan. Lumpur berfungsi sebagai lubrikasi dan medium pendingin untuk pipa pemboran dan mata bor. Lumpur merupakan komponen penting dalam pengendalian sumur (well-control), karena tekanan hidrostatisnya dipakai untuk mencegah fluida formasi masuk ke dalam sumur. Lumpur juga digunakan untuk membentuk lapisan solid sepanjang dinding sumur (filter-cake) yang berguna untuk mengontrol fluida yang hilang ke dalam formasi (fluid-loss).
 
Bagaimana pengerjaan pemboran sumur dilakukan ?
Pemboran sumur dilakukan dengan mengkombinasikan putaran dan tekanan pada mata bor. Pada pemboran konvensional, seluruh pipa bor diputar dari atas permukaan oleh alat yang disebut turntable. Turntable ini diputar oleh mesin diesel, baik secara elektrik ataupun transmisi mekanikal. Dengan berputar, roda gerigi di mata bor akan menggali bebatuan. Daya dorong mata bor diperoleh dari berat pipa bor. Semakin dalam sumur dibor, semakin banyak pipa bor yang dipakai dan disambung satu persatu. Selama pemboran lumpur dipompakan dari pompa lumpur masuk melalui dalam pipa bor ke bawah menuju mata bor. Nosel di mata bor akan menginjeksikan lumpur tadi keluar dengan kecepatan tinggi yang akan membantu menggali bebatuan. Kemudian lumpur naik kembali ke permukaan lewat annulus, yaitu celah antara lubang sumur dan pipa bor, membawa cutting hasil pemboran.


 Mengapa pengerjaan logging dilakukan ?
Logging adalah teknik untuk mengambil data-data dari formasi dan lubang sumur dengan menggunakan instrumen khusus. Pekerjaan yang dapat dilakukan meliputi pengukuran data-data properti elektrikal (resistivitas dan konduktivitas pada berbagai frekuensi), data nuklir secara aktif dan pasif, ukuran lubang sumur, pengambilan sampel fluida formasi, pengukuran tekanan formasi, pengambilan material formasi (coring) dari dinding sumur, dsb.
 
Logging tool (peralatan utama logging, berbentuk pipa pejal berisi alat pengirim dan sensor penerima sinyal) diturunkan ke dalam sumur melalui tali baja berisi kabel listrik ke kedalaman yang diinginkan. Biasanya pengukuran dilakukan pada saat logging tool ini ditarik ke atas. Logging tool akan mengirim sesuatu “sinyal” (gelombang suara, arus listrik, tegangan listrik, medan magnet, partikel nuklir, dsb.) ke dalam formasi lewat dinding sumur. Sinyal tersebut akan dipantulkan oleh berbagai macam material di dalam formasi dan juga material dinding sumur.
 
Pantulan sinyal kemudian ditangkap oleh sensor penerima di dalam logging tool lalu dikonversi menjadi data digital dan ditransmisikan lewat kabel logging ke unit di permukaan. Sinyal digital tersebut lalu diolah oleh seperangkat komputer menjadi berbagai macam grafik dan tabulasi data yang diprint pada continuos paper yang dinamakan log. Kemudian log tersebut akan diintepretasikan dan dievaluasi oleh geologis dan ahli geofisika. Hasilnya sangat penting untuk pengambilan keputusan baik pada saat pemboran ataupun untuk tahap produksi nanti.



Logging-While-Drilling (LWD) adalah pengerjaan logging yang dilakukan bersamaan pada saat membor. Alatnya dipasang di dekat mata bor. Data dikirimkan melalui pulsa tekanan lewat lumpur pemboran ke sensor di permukaan. Setelah diolah lewat serangkaian komputer, hasilnya juga berupa grafik log di atas kertas. LWD berguna untuk memberi informasi formasi (resistivitas, porositas, sonic dan gamma-ray) sedini mungkin pada saat pemboran.
 
Mud logging adalah pekerjaan mengumpulkan, menganalisis dan merekam semua informasi dari partikel solid, cairan dan gas yang terbawa ke permukaan oleh lumpur pada saat pemboran. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui berbagai parameter pemboran dan formasi sumur yang sedang dibor.


Mengapa sumur harus disemen ?
Penyemenan sumur digolongkan menjadi dua bagian :
Pertama, primary cementing, yaitu penyemenan pada saat sumur sedang dibuat. Sebelum penyemenan ini dilakukan, casing dipasang dulu sepanjang lubang sumur. Campuran semen (semen + air + aditif) dipompakan ke dalam annulus (ruang/celah antara dua tubular yang berbeda ukuran, bisa casing dengan lubang sumur, bisa casing dengan casing). Fungsi utamanya untuk pengisolasian berbagai macam lapisan formasi sepanjang sumur agar tidak saling berkomunikasi.
Fungsi lainnya menahan beban aksial casing dengan casing berikutnya, menyokong casing dan menyokong lubang sumur (borehole).
 
Kedua, remedial cementing, yaitu penyemenan pada saat sumurnya sudah jadi. Tujuannya bermacam-macam, bisa untuk mereparasi primary cementing yang kurang sempurna, bisa untuk menutup berbagai macam lubang di dinding sumur yang tidak dikehendaki (misalnya lubang perforasi yang akan disumbat, kebocoran di casing, dsb.), dapat juga untuk menyumbat lubang sumur seluruhnya.
 
Semen yang digunakan adalah semen jenis Portland biasa. Dengan mencampurkannya dengan air, jadilah bubur semen (cement slurry). Ditambah dengan berbagai macam aditif, properti semen dapat divariasikan dan dikontrol sesuai yang dikehendaki.

Semen, air dan bahan aditif dicampur di permukaan dengan memakai peralatan khusus. Sesudah menjadi bubur semen, lalu dipompakan ke dalam sumur melewati casing. Kemudian bubur semen ini didorong dengan cara memompakan fluida lainnya, seringnya lumpur atau air, terus sampai ke dasar sumur, keluar dari ujung casing masuk lewat annulus untuk naik kembali ke permukaan. Diharapkan seluruh atau sebagian dari annulus ini akan terisi oleh bubur semen. Setelah beberapa waktu dan semen sudah mengeras, pemboran bagian sumur yang lebih dalam dapat dilanjutkan.


Untuk apa directional drilling dilakukan ?
Secara konvensional sumur dibor berbentuk lurus mendekati arah vertikal. Directional drilling (pemboran berarah) adalah pemboran sumur dimana lubang sumur tidak lurus vertikal, melainkan terarah untuk mencapai target yang diinginkan.
 
Tujuannya dapat bermacam-macam :
1. Sidetracking : jika ada rintangan di depan lubang sumur yang akan dibor, maka lubang sumur dapat dielakkan atau dibelokan untuk menghindari rintangan tersebut.
2. Jikalau reservoir yang diinginkan terletak tepat di bawah suatu daerah yang tidak mungkin dilakukan pemboran, misalnya kota, pemukiman penduduk, suaka alam atau suatu tempat yang lingkungannya sangat sensitif. Sumur dapat mulai digali dari tempat lain dan diarahkan menuju reservoir yang bersangkutan.
3. Untuk menghindari salt-dome (formasi garam yang secara kontinyu terus bergerak) yang dapat merusak lubang sumur. Sering hidrokarbon ditemui dibawah atau di sekitar salt-dome. Pemboran berarah dilakukan untuk dapat mencapai reservoir tersebut dan menghindari salt-dome.
4. Untuk menghindari fault (patahan geologis).
5. Untuk membuat cabang beberapa sumur dari satu lubung sumur saja di permukaan.
6. Untuk mengakses reservoir yang terletak di bawah laut tetapi rignya terletak didarat sehingga dapat lebih murah.
7. Umumnya di offshore, beberapa sumur dapat dibor dari satu platform yang sama sehingga lebih mudah, cepat dan lebih murah.
8. Untuk relief well ke sumur yang sedang tak terkontrol (blow-out).
9. Untuk membuat sumur horizontal dengan tujuan menaikkan produksi hidrokarbon.
10. Extended reach : sumur yg mempunyai bagian horizontal yang panjangnya lebih dari 5000m.
11. Sumur multilateral : satu lubang sumur di permukaan tetapi mempunyai beberapa cabang secara lateral di bawah, untuk dapat mengakses beberapa formasi hidrokarbon yang terpisah.

Pemboran berarah dapat dikerjakan dengan peralatan membor konvensional, dimana pipa bor diputar dari permukaan untuk memutar mata bor di bawah. Kelemahannya, sudut yang dapat dibentuk sangat terbatas. Pemboran berarah sekarang lebih umum dilakukan dengan memakai motor berpenggerak lumpur (mud motor) yang akan memutar mata bor dan dipasang di ujung pipa pemboran. Seluruh pipa pemboran dari permukaan tidak perlu diputar, pipa pemboran lebih dapat “dilengkungkan” sehingga lubang sumur dapat lebih fleksibel untuk diarahkan.
 
Apakah perforating ?
Perforasi (perforating) adalah proses pelubangan dinding sumur (casing dan lapisan semen) sehingga sumur dapat berkomunikasi dengan formasi. Minyak atau gas bumi dapat mengalir ke dalam sumur melalui lubang perforasi ini. Perforating gun yang berisi beberapa shaped-charges diturunkan ke dalam sumur sampai ke kedalaman formasi yang dituju. 

Shaped-charges ini kemudian diledakan dan menghasilkan semacam semburan jet campuran fluida cair dan gas dari bahan metal bertekanan tinggi (jutaan psi) dan kecepatan tinggi (7000 m/s) yang mampu menembus casing baja dan lapisan semen. 

Semua proses ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat (17μs). Perforasi dapat dilakukan secara elektrikal dengan menggunakan peralatan logging atau juga secara mekanikal lewat tubing (TCP-Tubing Conveyed Perforations).


Apa artinya Well Testing ?
Well testing adalah metode untuk mendapatkan berbagai properti dari reservoir secara dinamis dan hasilnya lebih akurat dalam jangka panjang.
Tujuannya:
• Untuk memastikan apakah sumur akan mengalir dan berproduksi.
• Untuk mengetahui berapa banyak kandungan hidrokarbon di dalam reservoir dan kualitasnya.
• Untuk memperkirakan berapa lama reservoirnya akan berproduksi dan berapa lama akan menghasilkan keuntungan secara ekonomi.
 
Teknik ini dilakukan dengan mengkondisikan reservoir ke keadaan dinamis dengan cara memberi gangguan sehingga tekanan reservoirnya akan berubah. Jika reservoirnya sudah/sedang berproduksi, tes dilakukan dengan cara menutup sumur untuk mematikan aliran fluidanya. Teknik ini disebut buildup test. Jika reservoirnya sudah lama idle, maka sumur dialirkan kembali. Teknik ini disebut drawdown test.

Apakah tujuan stimulasi ?
Stimulasi (stimulation) adalah proses mekanikal dan/atau chemical yang ditujukan untuk menaikan laju produksi dari suatu sumur. Metode stimulasi dapat dikategorikan tiga macam yang semuanya memakai fluida khusus yang dipompakan ke dalam sumur.
 
Pertama, wellbore cleanup. Fluida treatment dipompakan hanya ke dalam sumur, tidak sampai ke formasi. Tujuan utamanya untuk membersihkan lubang sumur dari berbagai macam kotoran, misalnya deposit asphaltene, paraffin, penyumbatan pasir, dsb. Fluida yang digunakan umumnya campuran asam (acid) karena sifatnya yang korosif.
 
Yang kedua adalah yang disebut stimulasi matriks. Fluida diinjeksikan ke dalam formasi hidrokarbon tanpa memecahkannya. Fluida yang dipakai juga umumnya campuran asam. Fluida ini akan “memakan” kotoran di sekitar lubang sumur dan membersihkannya sehingga fluida hidrokarbon akan mudah mengalir masuk ke dalam lubang sumur.
 
Teknik ketiga dinamakan fracturing; fluida diinjeksikan ke dalam formasi dengan laju dan tekanan tertentu sehingga formasi akan pecah atau merekah. Pada propped fracturing, material proppant (mirip pasir) digunakan untuk menahan rekahan formasi agar tetap terbuka. Sementara pada acid fracturing, fluida campuran asam digunakan untuk melarutkan material formasi di sekitar rekahan sehingga rekahan tersebut menganga terbuka. Rekahan ini akan menjadi semacam jalan tol berkonduktivitas tinggi dimana fluida hidrokarbon dapat mengalir dengan lebih optimum masuk ke dalam sumur.
 
Apakah yang dimaksud dengan artificial lift ?
Artificial lift adalah metode untuk mengangkat hidrokarbon, umumnya minyak bumi, dari dalam sumur ke atas permukaan. Ini biasanya dikarenakan tekanan reservoirnya tidak cukup tinggi untuk mendorong minyak sampai ke atas ataupun tidak ekonomis jika mengalir secara alamiah. Artificial lift umumnya terdiri dari lima macam yang digolongkan menurut jenis peralatannya.
 
Pertama adalah yang disebut subsurface electrical pumping, menggunakan pompa sentrifugal bertingkat yang digerakan oleh motor listrik dan dipasang jauh di dalam sumur.

Yang kedua adalah sistem gas lifting, menginjeksikan gas (umumnya gas alam) ke dalam kolom minyak di dalam sumur sehingga berat minyak menjadi lebih ringan dan lebih mampu mengalir sampai ke permukaan.

Teknik ketiga dengan menggunakan pompa elektrikal-mekanikal yang dipasang di permukaan yang umum disebut sucker rod pumping atau juga beam pump. Menggunakan prinsip katup searah (check valve), pompa ini akan mengangkat fluida formasi ke permukaan. Karena pergerakannya naik turun seperti mengangguk, pompa ini terkenal juga dengan julukan pompa angguk.

Metode keempat disebut sistem jet pump. Fluida dipompakan ke dalam sumur bertekanan tinggi lalu disemprotkan lewat nosel ke dalam kolom minyak. Melewati lubang nosel, fluida ini akan bertambah kecepatan dan energi kinetiknya sehingga mampu mendorong minyak sampai ke permukaan.
 
Terakhir, sistem yang memakai progressive cavity pump (sejenis dengan mud motor). Pompa dipasang di dalam sumur tetapi motor dipasang di permukaan. Keduanya dihubungkan dengan batang baja yang disebut sucker rod.

Apa yang dimaksud dengan Enhanced Oil Recovery ?
EOR merupakan teknik lanjutan untuk mengangkat minyak jika berbagai teknik dasar sudah dilakukan tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan atau tidak ekonomis. Ada tiga macam teknik EOR yang umum :
1. Teknik termal : menginjeksikan fluida bertemperatur tinggi ke dalam formasi untuk menurunkan viskositas minyak sehingga mudah mengalir. Dengan menginjeksikan fluida tersebut, juga diharapkan tekanan reservoir akan naik dan minyak akan terdorong ke arah sumur produksi. Merupakan teknik EOR yang paling popular. Seringnya menggunakan air panas (water injection) atau uap air (steam injection).
2. Teknik chemica l: menginjeksikan bahan kimia berupa surfactant atau bahan polimer untuk mengubah properti fisika dari minyak ataupun fluida yang dipindahkan. Hasilnya, minyak dapat lebih mudah mengalir.
3. Proses miscible : menginjeksikan fluida pendorong yang akan bercampur dengan minyak untuk lalu diproduksi. Fluida yang digunakan misalnya larutan hidrokarbon, gas hidrokarbon, CO2 ataupun gas nitrogen.

Selain bahan bakar, apa saja yang dapat dibuat dari minyak dan gas ?
Ban mobil, disket komputer, kantung plastik, sandal, tali nilon, boneka, bandage, colokan listrik, crayon warna, atap rumah, skrin teras rumah, kamera, lem, foto, kapsul untuk obat, aspirin, pupuk, tuts piano, lipstik, jam digital, gantole, kacamata, kartu kredit, balon, shampo, bola golf, cat rumah, lensa kontak, antiseptik, piring, cangkir, tenda, deodorant, pasta gigi, obat serangga, CD, gorden bak mandi, pengering rambut, parfum, bola sepak, pakaian, krim pencukur jenggot, tinta, koper, pelampung, pewarna buatan, kacamata keselamatan, pakaian dalam, lilin, payung, mobil-mobilan, keyboard komputer, pengawet makanan, pulpen …. dan lain-lain tak terhitung lagi banyaknya.

 source : 

Minggu, 02 Januari 2011

The Dayak

The Dayak are the indigenous tribes of Borneo who live in groups living in rural, mountain, and so forth. Dayak said it was actually given by the Malay people who come to Borneo. Dayak people actually objected Dayak name, because more defined rather negative. In fact, the Dayaks motto is "Menteng Ueh mammoth", which means someone who has the power of courageous, and do not know surrender or persist.
OriginIn the year (1977-1978) at the time, the continents of Asia and the island of Borneo, which is part of the archipelago are still together, which allows the Mongoloid race from asia to wander through the mainland and arrived in Borneo to cross the mountains now called the mountains "Muller-Schwaner '. Dayak tribe of Borneo is the true population. But after the Malays from Sumatra and the Malay Peninsula came, they increasingly retreat into.


Not to mention the arrival of the Bugis, Makasar, and the Javanese Majapahit Empire in the heyday. Dayak tribes living scattered throughout the region of the long span of time, they have spread through the rivers down to the downstream and then inhabit the coast of the island of Borneo. This tribe is composed of several tribes, each of which has different properties and behavior.
Dayak tribe had to build an empire. In the Dayak oral tradition, often called "Java Nansarunai Uşak", ie, a kingdom which was destroyed by the Dayak Nansarunai Majapahit, which is estimated to occur between the years 1309-1389 (Fridolin Ukur, 1971). These events resulted in recessive Dayak tribes and dispersed, some into the countryside. The next big flows occur at the time of Islamic influence from the kingdom of Demak berasala with the influx of Malay traders (circa 1608).


Most of the Dayak tribe embraced Islam and no longer recognize him as the Dayak, but calls himself a Malay or Banjar. While the Dayak people who reject Islam back down the river, into the hinterland of Central Kalimantan, have settled in areas of Tangi Wood, Amuntai, Margasari, Watang Amanda, Lawas and Labuan Watang Balangan. Sebagain longer continue to push into the jungle. Muslim Dayaks are mostly located in South Kalimantan and some Kotawaringin, one of the famous Sultan of the Sultanate of Banjar is Gastric Mangkurat was actually a Dayak (Ma'anyan or Ot Danum)
Not only from the country, other nations also came to Borneo. Chinese nation is expected to start coming to Borneo during the Ming Dynasty in 1368-1643. From the manuscript lettered in kanji mentioned that the city's first visit is Banjarmasin. But it remains unclear whether the Chinese people came to the era Bajarmasin (under Majapahit hegemony) or in the Islamic era.
The arrival of the Chinese nation does not result in displacement Dayak population and has no direct effect because it directly because they only trade, especially with the kingdom of Banjar in Banjarmasin. They do not trade directly with the Dayaks. Chinese relics are still kept by some Dayak tribes like malawen dishes, pots (jars) and ceramic equipment.
Since the beginning of the fifth century the Chinese people have arrived in Borneo. In the XV century, King Yung Lo sent a large army to the south (including the Archipelago) under the leadership of Ho Chang, and returned to China in 1407, having previously stopped to Java, Borneo, Malacca, Manila and Solok. In 1750, Sultan Mempawah accept Chinese people (from Brunei) who is looking for gold. Chinese people are also carrying merchandise such as opium, silk, glassware such as plates, cups, bowls and jars (Sarwoto kertodipoero, 1963)
Here are some customs and traditions for tribal Dayak are still preserved up to now, and the supernatural world Dayak tribes in ancient times and today is still strong to this day. This tradition is one of the cultural wealth owned by the Indonesian nation, because in the first Dayak tribes from Kalimantan hinterland.
Ceremony tiwahThe ceremony is an event tiwah indigenous Dayak tribes. Tiwah a ceremony held for delivery of the dead bone to have stumbled on the make. Is a kind of stumbled a little house that was made specifically for those who had died.


Tiwah ceremony for the Dayak are very sacred, in the event this tiwah before the bones of the dead are in between and put into place (stumbled), numerous occasions of ritual, dance, sound gongs and other entertainment. Until the bones are in place in place (stumbled).






Supernatural WorldSupernatural world for the Dayak had been since ancient times is a hallmark of Dayak culture. Because of this supernatural abroad there are those called Dayak as man-eaters (cannibals). But in fact the Dayak is a very peace-loving tribe of origin they are not disturbed and suppressed arbitrarily. Borneo Dayak supernatural powers of many kinds, for example Manajah Antang. Manajah Antang is a great way to search for clues Dayak tribes such as the existence of an enemy that is difficult to find in the find of the spirits of the ancestors of birds Antang with the media, wherever the enemy that in the search will be found.
Red bowl. Red represents unity medium bowl Dayak tribes. Circulating red bowl if Dayak people feel their sovereignty in great danger. "Commander" or often referred Pangkalima Dayak tribe usually issued standby signal or a war in the form of a red bowl that get circulated from village to village very quickly. From the appearance of the daily lot of people do not know who the commander of the Dayak. He was mediocre, it's just that he has extraordinary psychic powers. Believe it or not it has knowledge commander can fly immune from anything like bullets, sharp weapons and so forth.
Red bowls do not haphazardly circulated. Before circulated the commander must make a custom event to know when the right time to start a war. In a traditional ceremony that the spirits of the ancestors will permeate the body and if pangkalima pangkalima the air "Tariu" (call the ancestral spirits for assistance and to declare war), the Dayak people who hear it will also have the power as commander. Usually people who get sick soul unstable or crazy when they hear tariu.
People who already possessed by the spirits of the ancestors will be human and not. So usually the blood, liver victims who were killed will be eaten. If not in an atmosphere of war is never the Dayak people eat human. Head decapitated, skinned and be saved for ceremonial purposes. Drink blood and eat the liver, then magical power will increase. The more enemies killed then the person is more powerful.
Red bowl made of bamboo porch (some say made of clay) which are designed in circular shape made soon. To accompany the bowls are provided also other equipment such as sweet red jerangau (acorus Calamus), which symbolizes the courage (some say could be replaced with yellow rice), red chicken feathers to fly, light torches on bamboo torches (some say could be replaced by a matches), sago palm leaves (Metroxylon sagus) for shelter and leather rope knot of kepuak as a symbol of unity. Supplies were packed in the bowl of bamboo wrapped with red cloth.
According to stories passed down through generations of red bowl first against Japan in circulation when the war first. Then happen again when the expulsion of Chinese from the Dayak areas in 1967. Dayak expulsion of Chinese people instead of inter-ethnic war but more political content. Because at that time Indonesia was a confrontation with Malaysia.
According to Dayak beliefs, especially those dipedalaman Kalimantan, which passed from mouth to mouth, from grandmother to father, from father to son, until now that is not written resulting in a more or less than that in truth, that the origins of Dayak ancestors was derived from the seventh heaven into this world with "Palangka Bulau" (Palangka means holy, clean, a shelf, as the stretcher is holy, holy axle of gold down from the sky, often also referred to "rack or Kalangkang").

 


Posted by putu pikacu jubeng at 07:39http://mengkatip.blogspot.com/

Do not Add Central Kalimantan Forest Damage




 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Palangkaraya, Reuters - The number of mining companies in Central Kalimantan proposing lend use permit application to the Department of Forestry forest area of potential concern. Environmental activists worry this will exacerbate the destruction of forests in Central Kalimantan.


Coordinator of Save Our Borneo (SOB), Nordin said the mining in forest areas are potentially cutting down forests or even open new areas so that forests are increasingly reduced.

This is especially ironic because the very slow rehabilitation of existing degraded land while it has reached seven million hectares more.

Based on data from Department of Mines and Energy Central Kalimantan province, 115 mining companies (KP) proposed the use permit approval for forest areas. 53 proposals permission of whom have received recommendations from the Governor of Central Kalimantan, to be submitted to the Department of Forestry.
Posted by Hadi at 23:31 0 comments

Labels: Do not Add Kalteng Forest Damage

Photo Documentation: The Dayak Head Hunter from Kalimantan In Search of the headhunting tribes of Borneo

Armed Dayaks busy with the scull of a head-hunted enemy, Central-Borneo
In Search of the Headhunting Tribes of Borneo
 Wed, Mar 17, 2010

 Shrunken smoked heads of slain enemies
Photo circa 1912: Charles Hose

Deep in the steamy jungle of Borneo, the bold English ethnologist hacked away with his machete to make headway through the dense vegetation. The short, sharp parang was designed to be drawn quickly, the better to strike for the neck. Yet while Charles Hose no doubt carried a blade during the many days and nights he spent living among the peoples of Borneo, this fanatical observer of the cultures of the huge Southeast Asian island was also armed with a subtler colonial weapon: the camera. Hose took many a well-aimed shot, and among his focus were Borneo’s headhunters. Still, he wasn’t the only snap-happy white chappie sporting britches and taking pictures; others, like the Dutch, were at it too.
Gallery inside a Kayan Dayak house with skulls and weapons lining the wall


In truth, Charles Hose was armed not just with a camera but with a pen. Stationed on Borneo as the Resident Magistrate during British Imperial rule there, this intrepid investigator recorded all he saw in his book, The Pagan Tribes of Borneo, published in 1912, and this included a discourse on headhunting:

“It is clear that the Ibans are the only tribe to which one can apply the epithet head-hunters with the usual connotation of the word, namely, that head-hunting is pursued as a form of sport,” write Hose, though he later states that these same people “are so passionately devoted to head-hunting that often they do not scruple to pursue it in an unsportsmanlike fashion.”
Ibu Dayak warrior headhunters from Longnawan, North Borneo


Before we get lost in confusion over what does and does not constitute sporting headhunting, let’s just be clear that the Iban are a branch of Borneo’s indigenous Dayak peoples. This sub-group of natives became known as Sea Dayaks to Westerners during the colonial era under the dynasty of James Brooke (1803-1868), the Rajah of Sarawak, which is one of Borneo’s Malaysian states.

The violent exploits of the Sea Dayaks in the South China Sea are well documented, due in no small part to their aggressive culture of war against emerging Western trade interests in the 19th and 20th centuries. James Brooke and his Malays gave as good as they got, however, attacking and wiping out 800 of the scurvy pirates. The Ibans also became notorious for headhunting, even if their being branded as pioneers of the practice was unfortunate, and perhaps off the mark.
Dayak man in possession of two heads on strings


Charles Hose himself thought it “probable” that the Ibans “adopted the practice [of headhunting] some few generations ago only… in imitation of Kayans or other tribes among whom it had been established,” and that “the rapid growth of the practice among the Ibans was no doubt largely due to the influence of the Malays, who had been taught by Arabs and others the arts of piracy.”

Modern sources less prone to imparting blame tie in the beginnings of this grisly activity among the Ibans with their territorial and tribal expansionism. As their own areas became overpopulated, they were forced to intrude on lands belonging to other tribes – trespassing which could only lead to death at a time when brutal confrontation was the only means of survival.
Armed Dayaks busy with the scull of a head-hunted enemy, Central-Borneo


Headhunting was also undoubtedly an important part of Dayak culture more widely. A tradition of retaliation for old headhunts kept the ritual alive until it was curtailed and then gradually stamped out by outside interference – namely, the reign of the Brooke Rajahs in Sarawak and the Dutch in Kalimantan Borneo – in the 100 years leading up to World War II.

Early on, Brooke Government reports describe war parties of Iban and Kenyah people – another group of tribes to whom headhunting was culturally important – in possession of captured enemy heads. Yet later on, with the exception of massed raids, the practice of headhunting was limited to individual retaliation attacks or occurred as the result of chance encounters.
Shaven-headed Dayak bearing a spear with a parang hanging from his side


Even so, by Charles Hose’s time headhunting was evidently still enough of an issue for the ethnologist to devote sections of his book to the subject. Hose even went so far as to explore possible explanations for the habits and beliefs that may have underlain and supported this macabre ferocity, offering two possible theories:

“That the practice of taking the heads of fallen enemies arose by extension of the custom of taking the hair for the ornamentation of the shield and sword-hilt,” and that: “The origin of head-taking is that it arose out of the custom of slaying slaves on the death of a chief, in order that they might accompany and serve him on his journey to the other world.”
Medicine men of the Dusun-Dayaks in West Borneo


Without wishing to cast too much doubt on Hose’s discerning colonial eye, contemporary scholars have offered slightly different views on what headhunting meant to the people who practiced it. Within the complex polytheist and animist beliefs of the Dayaks, beheading one’s enemy was seen as the way of killing off for good the spirit of the person who had been slain.

The spiritual significance of the ceremony also lay in the belief that it ushered in the end of mourning for the community’s dead. The heads were put on display at traditional burial rites, where the bones of relatives were exhumed from the earth and cleaned before being put in burial vaults. Ideas of manhood were also bound up with the practice, and the taken heads were surely prized.
Dayak chief in full traditional war dress



Those who might sit snugly behind the idea that these barbaric practices lie far from Western civilised standards may want to think again. During WWII, Allied troops are known to have collected the skulls of dead Japanese as trophies. In 1944 Life published a photo of a young woman posing with a signed skull sent to her by her Navy boyfriend, an event that caused public outrage.


 War worker with Japanese skull sent by her Navy boyfriend







Under Allied direction, the Dayaks themselves retaliated against the Japanese with their brand of guerrilla warfare following ill treatment by the occupying forces. The gruesome tradition temporarily reared its head again as US airmen and Australian special operatives turned inland tribesmen into a thousand-man headhunting army which killed or captured some 1,500 Japanese soldiers.
War worker with Japanese skull sent by her Navy boyfriend


In far more recent times, beheading by Dayak people again resurfaced. Kalimantan, the Indonesian portion of Borneo, has been marred by brutal outbreaks of ethnic violence since the late 1990s. In 2001, over 500 Madurese immigrants were killed and tens of thousands forced to flee, with the bodies of some victims decapitated in rituals all too reminiscent of traditions past.

Conversion to Islam or Christianity and anti-headhunting legislation by the colonial powers may have supposed to suppress headhunting, but violent practices the world over often have a habit of reappearing when situations get ugly.

Dayak chief in full traditional war dress
Dayak man in possession of two heads on strings
Gallery inside a Kayan Dayak house with skulls and weapons lining the wall

Ibu Dayak warrior headhunters from Longnawan, North Borneo
Medicine men of the Dusun-Dayaks in West Borneo
Shaven-headed Dayak bearing a spear with a parang hanging from his side
http://www.environmentalgraffiti.com/featured/headhunting-tribes-borneo/20773

Sabtu, 01 Januari 2011

Dayak Ethnic Origin










Since I was a teenager and began to expand social interaction, many are asking what is Dayak? where the Dayak? The same questions over and over again and make me wonder where the actual origin of the Dayak tribeDetermined to answer my curiosity is so strong, I finally find some articles about the history of Dayak. Lots of references in the form of a truth theory is still in doubt by historians. But in general more or less like thisAround 3000-1500SM, Asia and Borneo are still together. At that time there migration from Yunnan massive. They wandered across the continent, exploring the forests and mountains to reach the mainland of Borneo.Yunan Chinese nation from Borneo in the time it entered the kingdom of the Ming Dynasty between the years 1368 to 1643. The main objective of the Chinese nation is a trade. Along the way, in every region that they passed, they trade the goods they carry, such as opium, silk, chinaware which include plates, cups, bowls, jars and various other ceramics.Along with the entry of China into the mainland of Borneo, came also another group known as negroid and weddid group later known as the Malays.Both immigrant groups living side by side and finally settled in Kalimantan. From the end of mixing trade only resident through marriage. Children of the marriage of two immigrant groups that eventually became the Dayak tribe.The origin of the Dayak tribe is told from generation to generation by word of mouth. And because of mixing with Chinese nation that many children who faced oriental Dayak tribe, very similar to Chinese children. Slant-eyed and fair-complexioned.In fact, Dayak girls look more beautiful than her actual China. Dayak these girls look more exotic. Dayak tribe, the result of mixing it eventually spread to almost all areas in Kalimantan. They were combing the rivers, and then inhabit the coastal island of Borneo.Mixing continues to occur. Women / men Dayak tribe next generation married with fellow locals who created the Dayak tribe of pure or married to descendants of the Chinese who settled in their areas.Dayak tribes also formed a kingdom called "Nansarunai Uşak Java" or royal Nansarunai Dayak. However, this kingdom destroyed by the expansion of the Majapahit empire which wants to expand his realm.With the entry of the kingdom of Majapahit, the spread of Islam began to spread to the Dayak tribes who on average still adopts animism and dynamism, or the worship of objects and nature.Some of Dayak community eventually embraced Islam and since then they no longer recognize him as the Dayaks. Because the mystical world of the Dayak people who so strongly so contrary to the Islamic religion who worship God. Dayak tribe who converted to Islam are called themselves as the Malays or the Banjar.However, some of Dayak people remain in their beliefs. They do not embrace Islam because they still adhere to customs, traditions, and beliefs. So that the Dayaks were eventually displaced by the length along the rivers and into the hinterland of Central Kalimantan.They eventually settled in the area of Wood Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amanda, Lawas and Labuan Watang Balangan. Even some of the Dayak people who do not want to be affected by the outside world chose to enter the jungle forests and secluded life away from the outside world.But now with the over development of the era, Dayak tribes are no longer living in the forest, although there are still inland but already a little ahead because untouched by development.
 
From various sources